Saturday, April 9, 2016

Menulis Juga Bisa dari Kegelisahan Pikiranmu

Menulis dari kegelisahan

Kamu pasti pernah merasa gelisah. Hati dan pikiranmu. Tentu gelisah itu tidak nyaman, tidak enak, bahkan beberapa orang tidak bisa tidur nyenyak. Dari kegelisahan itu akan muncul banyak pertanyaan. Kita akan ambil contoh dari kegelisahan yang pernah saya alami mengenai kategori buku di rak buku toko buku. Di rak parenting saya cukup gelisah karena banyak sekali cara mendidik anak untuk mereka para kaum Ibu. Lantas apakah para Ayah tidak ada buku panduannya nih? Tidak adakah yang menulis cara mendidik anak untuk mereka para kaum Ayah? Dari situlah buku non-fiksi saya terbit.

Raditya dika juga menulis dari kegelisahan. Satu hal yang pernah saya tahu di salah satu novelnya dirinya cukup gelisah jika cinta yang dirasakannya kadaluarsa. Lalu muncul pertanyaan, bisakah cinta itu kadaluarsa? Lantas apa yang terjadi selanjutnya? Apa sikap dan respon saat cinta kadaluarsa itu datang? Dari kegelisahan, rasa cemas, khawatir, muncul lah banyak pertanyaan yang mengantarkan kita untuk menciptakan suatu tulisan.

Kegelisahanmu mungkin sama dengan orang lain, dengan teman dan sahabatmu. Tapi tetap memiliki perbedaan bahwa apa yang kamu rasakan dan apa yang ingin kamu ungkapkan. Cobalah cari kegelisahan dalam diri dan pikiranmu. Apa saja. Kegelisahan menurut Raditya dika sendiri bisa dikategorikan dari usia. Usia remaja biasanya gelisah perihal cinta remaja, pertemanan, dan pelajaran atau prestasi. Usia remaja-dewasa masih sama, hanya saja mungkin gelisah perihal kuliah, dosen, organisasi, dan teman-teman kampusnya. Usia dewasa biasanya gelisah mengenai pekerjaan, melanjutkan kuliah lagi atau tidak, dan pernikahan. Usia dewasa-tua biasanya gelisah mengenai perkembangan anak, rumah tangga, tetangga, masa depan pekerjaan.

Kegelisahan juga bisa muncul dari apa yang kamu lihat sehari-hari di sekitarmu. Terutama apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan perasaanmu. Tentang orang-orang bertindak jahat, melakukan tindak kecurangan, ketidak adilan, dan lain sebagainya. Gelisahlah untuk mendapatkan ide tulisan jika kamu merasa buntu menentukan ide tulisanmu selanjutnya.

Menulis Jangan Cuma Mengandalkan Perasaan, Tapi Juga Harus Riset

pentingnya riset dalam menulis

Menulis tidak cukup melibatkan perasaan semata. Tapi juga butuh riset. Tidak sebatas buku non-fiksi saja yang butuh riset, tapi buku fiksi juga butuh riset. Kalau kamu mengikuti perkembangan Dewi Lestari dalam membuat novel-novelnya, kamu pasti paham bahwa dirinya juga melakukan riset agar memahami dengan sangat baik tokoh yang akan diciptakannya nanti.

Sebagai langkah awal, menulis dengan perasaan itu memang penting. Lagi jatuh cinta pengen nulis tentang cinta. Habis nonton film horor akhirnya kepikiran menulis tentang horor. Penting memang sebagai jangkar agar kamu paham dari awal hingga akhir topik yang sedang kamu tulis adalah tentang perasaanmu. Hanya saja, banyak penulis tidak menyelesaikan tulisannya lantaran perasaan yang terlibat dalam penulisan tidaklah semenarik saat ditulis. Terlalu biasa, terlalu mudah ditebak.

Riset bagi penulis layaknya kamu menambahkan ornamen dalam rumah kamu. Fondasi adalah perasaanmu, riset adalah cara mempercantik rumahmu. Bagi kamu yang malas riset, siap-siaplah tidak akan berkembang menjadi penulis yang baik. Karena kesan orang membaca tulisanmu menjadi nilai paling penting dibandingkan perasaan yang sudah kamu tulisankan itu.

Bagi penulis, riset juga tidak sekedar membaca buku. Bertanya pada orang lain tentang pengalaman cinta mereka bisa juga jadi jalan cerita baru bagi tulisanmu. Menonton drama korea atau serial televisi amerika yang bertopik cinta juga dapat membantumu menemukan konflik-konflik yang tidak mudah ditebak oleh orang lain. Menonton anime, kartun, atau film dari negara lain tentang cinta juga membantumu menemukan ide penyelesaian dari suatu masalah dalam cerita. Semua itu termasuk riset.

Dalam menulis fiksi, cerpen misalnya, saya perlu riset dengan membaca cerpen dari banyak orang. Entah tentang cinta, kasus kriminal, politik, keluarga, dsb. Belum selesai maka saya tambahkan dengan membaca komik dari jepang. Begitu terus hingga saya terbiasa membuat kejutan-kejutan dalam cerita yang saya buat. Tidak mudah ditebak tapi juga tidak lepas dari alur ceritanya. Bahkan tidak jarang saya mencuri beberapa kalimat dari novel-novel tertentu dan saya kembangkan sendiri.

Perasaan memang berperan baik, hanya saja, perkuat dengan riset agar tulisanmu tampak kaya dan padat. Orang tidak lagi berpikir, "Ah, cerita cinta biasa nih" tapi mereka berpikir, "Cerita cinta ini menarik, konfliknya lucu, endingnya tidak disangka-sangka". Karena bagi pembaca manapun, mereka tidak ingin menghabiskan waktu mereka membaca hal-hal yang akhirnya mengecewakan. Jadi risetlah dulu sebelum menulis. Maka kamu akan terkejut tulisanmu benar-benar berkembang ke arah yang lebih baik.

Kenali Kategori Penjualan di Toko Buku, Sebelum Membuat Buku

Kenali jenis-jenis buku di toko buku

Menjadi penulis tentunya harus mengerti tempat dimana buku dijual. Layaknya kamu ingin berdagang, berwirausaha, kamu perlu ke mall, pasar, supermarket untuk menentukan barang apa yang kamu jual. Kalau ingin menjual celana, maka celana apa yang ingin kamu jual. Jeans, celana kantor, celana olahraga, dsb. Begitu juga dengan penulis. Banyak penulis pemula bingung menentukan topik dari buku yang akan ditulisnya. Padahal caranya cukup mudah. Yaitu cobalah ke toko buku, dan lihat ketegori rak penjualannya. Ada buku fiksi dan non-fiksi. Di buku non-fiksi ada buku untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, serta remaja dan anak-anak. Semakin kamu paham kategori penjualan yang ada di toko buku, kamu semakin mudah menentukan topik yang ingin kamu tulis nanti.

Mengawali menulis dari buku non-fiksi, saya tentu mengecek terlebih dahulu bagian rak penjualan di toko buku. Yaitu bagian parenting. Setelah melihat-lihat, saya jadi paham topik apa di rak parenting yang belum dibahas. Sehingga saya dapat menulis buku sesuai dengan keinginan saya namun tetap mengacu pada kategori penjualan yang sudah ada.

Banyak kesalahan terjadi atau memang bukumu mungkin yang pertama menjadi kategori di rak buku penjualan. Sehingga tidak heran bukumu menjadi salah ditempatkan. Dulu kasus itu terjadi oleh Raditya dika buku pertamanya berjudul kambing jantan. Rak kategori fiksi komedi memang saat itu belum lah sepopuler sekarang. Bukunya ditaruh di bagian pertanian/perternakan. Tentu nantinya pihak penerbit juga akan mengecek hal ini. Namun sayangnya tidak secepat yang kamu harapkan. Jadi alangkah baiknya kamu mengawali karir menulismu dengan kategori rak yang sudah ada dulu.

Sama seperti menulis fiksi. Kamu ingin menulis novel tentang fantasi. Permasalahannya, sampai sekarang tidaklah ada kategori khusus untuk novel itu. Lebih banyak tentang cinta-remaja, cinta-dewasa, horror (ini baru beberapa tahun belakangan), dan thriller (mencekam, kriminal, dsb). Mengenal kategori penjualan di toko buku juga membantumu mengenal penerbit lebih jauh. Ada beberapa novel fantasi karya anak bangsa, tapi kamu harus jeli melihat bukunya berada di rak mana. Nantinya kamu akan tahu penerbit mana saja yang bersedia menerbitkan buku dengan topik fantasi seperti bukumu. Sehingga kamu tidak mengirimkan naskahmu ke penerbit secara acak. Tidak buang-buang waktu juga kan?

Bisakah kita menentukan topik yang benar-benar tidak ada di dalam toko buku? Bisa. Kalau kamu berani menerbitkan bukumu sendiri (secara indie, penerbit online biasanya menyediakan jasa ini) maka kamu bisa menerbitkan bukumu. Hanya saja butuh tenaga ekstra disini. Sangat-sangat ekstra. Kenapa? Karena biaya penerbitan buku diawal kamu yang menanggung, biaya untuk desain cover buku dan layout juga kamu yang menanggung, serta biaya promosi. Tapi kalau kamu sangat yakin dan sudah memiliki penggemar di dunia maya, sosial media, cara ini bisa sangat dicoba.

Kategori buku di rak toko buku sebenarnya disesuaikan dengan minat baca pembelinya. Karena toko buku adalah bisnis, sehingga tidaklah mungkin toko buku menyediakan rak buku yang isinya buku-buku yang tidak diminati pembaca. Itulah asalan jelas kita tidak bisa juga berpikir terlalu idealis. Harus mengikuti tren dan perkembangan zaman. 5 tahun belakangan rak buku horror tidaklah sebanyak sekarang bukunya. Bahkan saya pun tidak berminat tentang hantu dan segala macamnya. Kalau berbau kriminal sih mungkin masih bisa ya. Walau banyak buku import horor seperti goosebump dan animorphs dulu, tapi penerbit dan toko buku tentu memiliki perhitungan sendiri agar tidak rugi. Sekarang buku itu saja tidak banyak bisa ditemui di toko buku manapun kan? Karena ada trennya ada zamannya sendiri.

Sudah paham pentingnya mengenali kategori penjualan di toko buku? Jika sudah, maka tentukan topik buku yang akan kamu buat.
Friday, April 8, 2016

Yakin Langsung Menulis Novel? Cerpen Dulu Saja

tulislah cerpen sebelum novel

Banyak pemula yang dalam menulis terlalu tergesa-gesa. Sangat yakin dirinya bisa menulis novel padahal belum punya pengalaman yang cukup. Keyakinan itu penting dan wajib. Namun untuk menambah kualitas tulisan dan menghindari dari kesia-siaan waktu dan tenaga, setiap penulis menulis dari yang sederhana terlebih dahulu. Sebelum menulis novel alangkah baiknya untuk menulis cerpen.

Menurut HuffingtonPost, salah satu tips sukses menulis cerpen adalah tidak lebih dari 3500 kata. Menulis novel bisa sampai 20.000-25.000 kata. Sedangkan menulis cerpen sebagai media belajar penting karena kita belajar untuk tidak kehilangan momen dari cerita yang kita tulis. Kamu pasti pernah mendengar atau membaca novel yang tiba-tiba di tengah jalan kamu kehilangan minat untuk melanjutkannya. Ceritanya tiba-tiba terlalu datar dan mudah ditebak alurnya. Rugi kan jika akhirnya novelmu terbit tapi gagal best seller karena banyak orang yang menceritakan bukumu itu jelek.

Bagi saya, cerpen itu 3-7 halaman. Minimal 900 kata sampai 2700 kata. Terlalu banyak bisa hilang kesempatan untuk membuat orang tetap membaca. Kita belajar menulis padat dan ketat. Sehingga kita bisa menyampaikan maksud dari cerita kita pada para pembaca itu seperti apa. Jelas intinya, tidak bertele-tele tetapi tetap mengena di hati pembaca. Sebagian penulis pemula menghindari menulis cerpen lantaran mereka tidak ingin membuang-buang waktu. Padahal cerpen dengan 3-7 halaman dapat di tulis tidak sampai 3-5 jam dalam sehari.

Saya sendiri memilih untuk menulis cerpen 900 kata. Atau jika masih ada informasi yang perlu ditambahkan menjadi 1800 kata. Tokoh utama dengan tokoh pendamping konfliknya jelas. Alurnya enak dibaca karena tidak banyak kata yang diulang (boros kata). Dan juga dapat dibuat surprise endingnya. Kelebihan menulis cerpen adalah mengasah kemampuan menulismu untuk memberikan alur yang tegas, tidak kendor, tidak juga melebar kemana-mana. Membuatmu paham pentingnya prolog, klimaks, anti-klimaks, dan ending. Membuatmu paham bahwa dari cerpen pun, kamu bisa mengembangkannya menjadi novel.

Selain itu mencegahmu dari rasa bosan terlalu cepat karena ceritamu tidak kunjung usai. Saya punya pengalaman buruk bahwa menulis novel tidak jadi dan tidak selesai karena saya sendiri merasa tulisan saya sudah kehilangan alurnya. Di halaman ke 60 atau 80 sudah merasa jenuh, tapi belum sampai penyelesaian dari cerita. Rugi akhirnya. Sehingga belajar menulis cerpen membantumu untuk bisa menulis banyak cerita dari ide yang berbeda-beda. Coba ke storial.co, lalu kamu cari kategori cerita pendek. Ada hampir 600 cerita pendek dan bagus-bagus untuk dibaca. Bisa jadi referensimu dan juga membuatmu segera action menulis.

Saya sendiri sudah menulis cerita pendek di storial.co, berjudul Rusuk yang Hilang. Dibaca lebih dari 1600 pembaca. Sehingga saya yakin untuk mengembangkan cerita pendek itu ke dalam bentuk novel yang lebih panjang dan konflik yang lebih rumit. Tidak ada salahnya mencoba cerpen kan? Bahkan jika kamu ingin bersastra ria, kamu bisa juga berpuisi. Sama-sama menariknya. Jika cerpenmu sudah terkumpul banyak bisa kamu satukan semua menjadi satu draf naskah. Antologi cerpen namanya. Jika cerpenmu terdiri dari 5 halaman, kamu bisa mengumpulkan 16 cerpen untuk menjadi satu buku. Tidak banyak loh. Satu bulan kamu bisa membuat satu buku. Mudah kan? Silahkan mencoba. Oia, tips membuat cerpen akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Cara Agar Bukumu Best Seller?

cara agar bukumu best seller

Lihat tumpukan buku pada gambar diatas. Mengerikan!? Sungguh, jumlah buku sebanyak itu, bagaimana caranya agar orang melihat bukumu? Jelas di toko buku, baik di Gramedia, Togamas, atau di toko buku mana pun, dengan jumlah buku yang dijual sebanyak itu, tidaklah mudah menemukan bukumu. Lantas pasti kamu pun penasaran dan tergelitik untuk bertanya, bagaimana cara agar buku kita best seller? Banyak dibeli orang. Jawabannya sulit. Sangat!? Tapi tentu ada metode dan tahapan yang bisa saya jabarkan disini. Mari kita ulas bersama.

Pekerjaanmu Belum Selesai Walau Bukumu Sudah Terbit!

Ini benar. Sekali lagi, benar! Lain dulu lain sekarang. Dulu, zaman belum ada internet dan teknologi smartphone, menjadi penulis ketat sekali persaingannya. Masuk di penerbitan sulit sekali. Tapi sekarang tidak. Penerbit sudah banyak, yang mau nerbitin bukumu juga pasti ada. Jika ternyata penerbit meloloskan naskahmu, berarti kamu yang terpilih dari ribuan judul dan naskah yang masuk ke penerbit. Namun setelah terbit tugasmu belum selesai.

Di era internet sekarang ini, penulis juga harus terlibat dalam promosi buku. HARUS! Jika tidak, orang-orang tidak akan pernah tahu tentang bukumu. Lalu bagaimana caranya? Buat blog. Penting karena orang lain butuh tahu siapa kamu melalui blog yang kamu buat. Gunakan sosial mediamu! Yups, penting juga mengajak teman-temanmu di sosial media untuk tahu kalau kamu sekarang adalah penulis. Entah mereka beli atau tidak, yang terpenting kamu memberikan pengumuman dulu bahwa bukumu telah terpajang di etalase toko buku.

Konsisten, Jangan Menyerah Promosi!

Namanya juga promosi, jika buku butuh terbit setidaknya enam bulan (4 bulan baru direspon penerbit, 2 bulan naik cetak dan masuk toko buku) maka kamu punya waktu 6 bulan lagi untuk terus promosi. Lakukan secara online terus menerus. Masuk ke forum penulis, di kaskus, atau di media forum online manapun. Lakukan blogwalking, istilah untuk mengunjungi blog orang lain dan berkomentar tentang artikel mereka. Nantinya bakal banyak orang yang penasaran buku yang kamu tulis tentang apa.

Keluarkan uang untuk promosi juga penting. Sudah banyak jasa promosi secara online. Baik di twitter, facebook dan instagram. Promosi gratis sudah kamu maksimalkan menggunakan sosial mediamu sendiri maka saatnya promosi dengan uang. Banyak penulis pemula menghindari cara ini dikarenakan hanya buang-buang uang. Padahal investasi promosi ini penting. Soalnya, kamu belum punya nama, dan orang belum kenal. Strategi sosial media cukup ampuh.

Jangan Kecewa Penjualan 6 Bulan Pertama

Dulu saya kecewa. Sangat! Buku pertama laku tapi tidak begitu sukses. Begitu pun buku ke dua dan ketiga. Lah? Intinya, saat kamu mendapati laporan penjualan dari penerbit selama enam bulan, maka, kamu bisa intropeksi diri lagi. Singkatnya, jika penjualan bukumu selama 6 bulan mencapai 3000 buku, maka kamu mendekati best seller! Sayangnya saya mencapai angka itu dalam waktu satu tahun. Kan penduduk Indonesia banyak kok penjualannya rendah? Apalagi sudah masuk Gramedia juga? Wajar, minat baca di negeri kita tercinta masih rendah. Orang mengeluarkan uang untuk beli buku masih berpikir panjang.

Raditya dika saja 10.000 buku dalam waktu seminggu. Artinya kamu perlu lebih mawas diri, sadar diri, jangan terlalu cepat untuk berharap best seller. Tapi juga jangan mudah menyerah. Teruslah menulis buku dan berkaryalah. Karena buku pertamamu dengan buku kelimamu jelas kualitasnya meningkat. Bisa jadi di buku keenam orang jadi banyak tahu tentang dirimu dan membeli bukumu. Akhirnya best seller deh. Lama ya? Jelas, menjadi penulis bukan pekerjaan mudah. Ada seleksi alamnya. Kalau kamu mampu bertahan, nantinya karyamu pasti diminati banyak orang.

Jadi kesimpulannya, PROMOSI! Pihak penerbit pasti promosi, tapi kamu juga jangan ketinggalan. Dekatkan diri pada para pembaca, kalau mau promosi offline seperti bedah buku dan sharing menulis juga bisa tapi untuk buku karya pertama biasanya sulit melakukan itu. Tapi kalau bisa kenapa tidak? Silahkan mencoba.

Kenapa Menulis Itu Sulit?

kenapa menulis itu sulit

Setiap orang yang pernah membaca buku novel, cerpen, kumpulan puisi, pastilah ingin menuliskan karyanya sendiri dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Tidak hanya itu, menulis di koran, menulis di majalah, menulis paper studi kuliah, apapun itu, kita pasti ingin menulis sesuatu. Permasalahannya yang paling mendasar adalah buntunya ide. Pertanyaannya menjadi, kenapa menulis itu sulit?

Jarang Membaca Buku

Yups. Jarang membaca adalah faktor utama bagimu sulit menulis sesuatu. Tapi kok banyak mereka yang nulis di status Facebook tentang politik asal begitu, toh buktinya mereka bisa menulis. Tentu, tapi sumber referensi yang tidak kuat menyebabkan tulisan mereka cenderung emosional dan mudah dibantah. Sama halnya jika kamu menulis sebuah fiksi seperti cerpen atau novel. Kurangnya referensi berupa buku sastra fiksi yang pernah kamu baca mengakibatkan perbendaharaan katamu kurang. Jadinya tulisan yang kamu ciptakan hambar. Mudah ditebak alur ceritanya. Bahkan tokoh yang kamu ciptakan tidaklah kuat karakternya.

Tidak Berani Memperbaiki

Faktor kedua adalah tidak berani memperbaiki. Sudah banyak mereka yang menulis status di Facebook mengkritik sesuatu tapi tidak berani memperbaiki tulisan yang sudah mereka posting. Mudahnya, tulisan panjang lebar telah dibuat tapi setelah mendapatkan bantahan, tidak belajar dari kesalahan. Merasa diri benar, dan tentu saja membuat diri tidak dapat berkembang. Asal bisa menulis saja tidaklah cukup bagimu yang ingin menciptakan sebuah buku. Karena ada beban moral yang harus kamu tanggung setelah buku itu terbit. Menulis di status Facebook mengkritik sesuatu pastilah ada pertanggung jawaban sesudahnya. Sehingga di kotak komentar menulis fakta-fakta yang didapatkan untuk mendukung status yang dibuat sebelumnya. Jika tidak, ya itu tadi, kualitas tulisanmu tidak akan kemana-mana.

Takut Gagal

Ada kalanya gagal itu sudah berada di pikiran kita padahal menulis saja belum. Tergelitik dengan berita hangat di televisi dan ingin menuliskan opini di status sosial media, sudah panjang lebar, akhirnya tidak jadi di posting. Takut gagal, takut kena kritik balik, takut akhirnya tidak tenang. Menulis merupakan karya cipta pikiran kita terhadap suatu hal yang dituliskan di media apapun. Baik offline maupun online. Tidak ada karya cipta itu yang tidak di kritik. Pasti semua di kritik. Hanya saja bagaimana kita menanggapinya. Tidak ada karya cipta itu yang tidak ditolak penerbit. Pasti ada dan bagaimana kita menanggapinya juga.

Jadi, sudah terjawab sebab kamu sulit menulis kan? Perbanyak bacaanmu (buku ya, tidak sekedar membaca di internet), Berani memperbaiki tulisan-tulisanmu (apapun itu, untuk kepentingan apapun, cek lagi, perbaiki lagi), dan Berani gagal (di kritik, di tolak karyamu, apapun itu, coba lagi). Semoga tiga hal sederhana ini membantumu untuk lebih bersemangat dalam menulis dan bersiaplah untuk tips dan trik menulis lainnya dari saya.