Showing posts with label tips menulis. Show all posts
Showing posts with label tips menulis. Show all posts
Monday, April 11, 2016

Menulis Resensi Buku Secara Online di Blog

Menulis Resensi Buku Secara Online di Blog

Resensi buku adalah salah satu cara belaja menulis. Walau tentu resensi buku lebih berkaitan erat dengan fakta-fakta yang kamu dapati dari buku yang kamu baca. Berbeda dengan menulis cerpen dan novel, menulis resensi tentulah non-fiksi. Artinya mencoba memberi informasi detail namun tetap tidak membuka semua informasi yang ada di dalam buku. Ringkasnya adalah berupa kesimpulan berupa kritik dan saran dari buku tersebut. Bukan pada isi cerita tapi pada fisik buku.

Pada gambar diatas adalah buku novel berjudul girls in the dark karya Akiyoshi Rikako penulis asal Jepang. Nah, kita mulai resensinya.

Identitas Buku

  1. Judul: Girls In The Dark
  2. Penulis: Akiyoshi Rikako
  3. Penerbit: Haru
  4. Tahun Terbit: 2015
  5. Tebal/Jumlah Halaman: 284
Penggunaan Bahasa

Buku ini menggunakan bahasa deskripsi untuk menjelaskan cerita di dalamnya. Tidak terdapat cacat dalam penulisan atau typo yang berarti. Beberapa istilah Jepang juga disertai keterangannya sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan maksud dari sang penulis. Karena termasuk buku terjemahan dan penterjemah ingin tidak merubah banyak hal seperti buku aslinya maka novel ini cukup sulit diikuti jika tidak terbiasa membaca buku terjemahan. Tidak seperti novel bahasa Indonesia pada umumnya.

Ikhtisar Buku

Novel ini bergenre Thriller. Bukan horor karena tidak terdapat unsur supranatural. Namun mencekam dan banyak unsur surprise yang tidak terduga. Cukup sulit diikuti karena menggunakan sudut pandang orang pertama yang berpindah-pindah. Sehingga tiap bab berbeda porsi karakternya. Ada 8 bab yang mana 7 bab menceritakan kisah masing-masing tokoh dari sudut pandang orang pertama. Agak membingungkan sebenarnya namun jika sudah selesai membaca satu bab maka akan mengerti. Menarik karena kental dengan nuansa khas Jepang. Dari latarnya sekolah swasta khusus perempuan. Diceritakan juga makanan khas jepang (cemilannya). Lalu misteri dan kebohongan yang akan terungkap satu demi satu. Cocok bagi yang menikmati kisah misteri seperti pembunuhan atau detektif. Banyak sekali informasi yang muncul belakangan sehingga pembaca butuh kecermatan untuk mengingat bab-bab yang sudah dibaca sebelumnya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Kelebihan buku ini adalah nuansa cerita dan alurnya yang maju dan mundur. Berganti-ganti tokoh membuat kita tidak menyangka adegan demi adegan dan fakta demi fakta terungkap. Selain itu bahasanya yang ringan mudah dicerna serta konfliknya tidak terlalu rumit dan bertele-tele. Apalagi ada tambahan cerita pendek dari penulis yang membuat semakin menarik buku novel ini. Tidak heran buku novel ini juga populer di Indonesia. Kekurangannya terletak pada halaman pengganti bab. Font yang dipakai tidak mudah dibaca. Memang menambah nuansa thriller namun alangkah baiknya editor memilih font yang mudah dibaca. Seperti pada bab Macaronage. Karena fontnya membuat huruf C dan R terlihat mirip, butuh membaca seluruh bab itu baru paham kalau itu adalah tulisan untuk Makaron (sejenis makanan).

Kesimpulan

Buku ini yang diharapkan lebih banyak diterbitkan di Indonesia. Selain sebagai wadah referensi oleh pembaca dan penulis tentang karya sastra dari Jepang. Untuk buku, sangat bernuansa Jepang dan rasanya untuk karya terbitan penulis Jepang lainnya yang bernuansa horor, thriller, bisa menggunakan desain buku seperti ini.

Nah, itulah contoh resensi buku yang bisa kamu tulis secara online. Mudah kan? Memang banyak macamnya contoh resensi buku. Ini salah satunya yang sederhana yang bisa diikuti tanpa banyak pertimbangan khusus yang mendalam. Cari buku yang kamu punya, entah itu non-fiksi atau fiksi. Nantinya kamu bisa terus mengisi blogmu dan terus update. Menambah kualitas tulisanmu karena kamu berusaha menilai suatu buku sejujur-jujurnya.
Sunday, April 10, 2016

Menulis Cerpen dengan 3 Kata Ajaib

Menulis Cerpen dengan 3 Kata Ajaib

Artikel yang lalu dari saya membahas bahwa sebelum menulis novel, tulislah dulu cerpen. Semakin banyak menulis cerpen maka semakin baik alur cerita, konflik, tokoh yang kamu buat. Lalu rasanya kok kamu belum menulis cerpenmu juga ya? Hehe, sabar. Disini saya akan membahas apa yang telah saya pelajari mengenai menulis cerpen yang cukup mudah diikuti oleh siapapun. Apalagi bagi kamu yang suka membaca buku, baik fiksi atau non-fiksi, menonton film atau kartun, maka cara ini cukup ampuh untukmu. Langsung saja yaitu kita memulai menulis dengan tiga kata ajaib yang tidak saling berkaitan satu sama lain. Cara ini dipopulerkan oleh A.S. Laksana. Saya hanya menceritakan cara ini karena kamu bisa membeli buku karya beliau berjudul Creative Writing yang diterbitkan oleh Gagas Media. Langsung saja yuk.

Coba lihat gambar di atas. Ada tiga benda yang bisa kita lihat. Yaitu kaca mata, cangkir kopi, dan laptop. Dari ketiga kata tersebut kita bisa menciptakan satu paragraf pembuka untuk cerpenmu menjadi lebih menarik dan tidak biasa. Seperti nasihat yang diberikan oleh A.S. Laksana bahwa banyak penulis pemula memulai kesalahan umum pada kalimat pembuka cerita mereka atau pada paragraf pertama. Kesalahan itu seperti, "Pada suatu hari," atau "Matahari tampak terik siang ini, aku berjalan gontai menuju ke rumah" adalah kalimat pembuka umum yang sudah tidak lagi menarik untuk dibaca oleh siapapun. Dengan menentukan tiga kata acak yang tidak berhubungan sama sekali maka kita bisa menciptakan kalimat baru atau paragraf baru yang lebih segar.

Letakkan kaca mata sebagai kata awal paragraf. Cangkir kopi berada di tengah paragraf. Sedangkan laptop di akhir paragraf. Silahkan melihat contoh paragraf yang sudah saya buat di bawah ini.

Kaca matanya turun sebelah, lensanya retak, nafasnya memburu berkejaran. Andy bertahan setengah berdiri setelah badannya remuk redam dihajar oleh teman-temannya sekolahnya. Goresan, lecet, bercak darah menghiasi wajahnya. Sekuat tenaga melayangkan kepalan tangan ke salah satu lawan, tidak mengenai sasaran.
 "Ngaku aja, elu kan yang naruh racun itu di cangkir kopi Rahman?" tepatnya bukan racun, hanya obat pencahar perut.
Andy tetap diam, mencoba bertahan. Ada sesal menyeruak di pikirannya kali ini. Jika saja tidak dilihatnya pesan pagi tadi dari Facebook di laptopnya, dia tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini. Kini tiap detik begitu berharga baginya.
Bagaimana? Cukup menarik bukan? Bahkan saya juga tidak menyangkan jika awal cerita diatas menjadi sebuah cerita bertopik thriller atau mencekam. Tentu selebihnya bisa dikembangkan menjadi cerita romantis kriminal atau malah ke arah fantasi dan horor. Bisa juga menjadi cerita slice of life tentang persahabatan semasa sekolah. Apapun yang akan terjadi setelah awal paragraf diatas tidak ada yang tahu kecuali saya sendiri. Begitu pun juga dirimu akan merasa tertarik untuk terus membacanya hingga akhir karena paragraf pembukanya tidak kamu sangka-sangka.

Tiga kata ajaib ini bisa lahir dari mana saja. Lihat sekelilingmu ada benda apa saja, lalu ciptakan saja cerita menarik dari tiga kata benda yang sudah kamu temukan. Kamu juga bisa melihat foto-foto atau wallpaper di website atau sosial media untuk mendukung ceritamu. Bebas. Inilah menariknya menulis cerpen. Kerjakan tidak lebih dari 30 menit dan setiap hari buatlah satu cerpen dengan panjang halaman tidak lebih dari 5 halaman. Maka setelah 30 hari jangan heran kamu akan memiliki cerpen sebanyak 30 yang bisa kamu print sendiri dan kamu bagikan ke teman-teman kamu.

Ini masih sederhana. Karena dengan membuat banyak cerpen bisa saja kamu nantinya menemui jalan buntu juga. Semisal cerita di cerpen pertama mirip dengan cerpenmu ke 50. Berarti kamu harus riset juga kan? Coba baca lagi artikel saya mengenai riset untuk menulis. Jika riset pun sudah, cerpen pun juga sudah dibuat banyak, kelompokkan berdasarkan topiknya. Bisa jadi saat ada lomba menulis cerpen kamu tinggal memilih cerpen mana yang akan kamu kirim. Bisa jadi juga dari cerpen diatas buatlah cerita bersambung. Nantinya bisa jadi novel juga kan? Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Yups, cukup disitu saja cerita saya dan pembahasan mengenai cerpen dengan tiga kata ajaib itu. Coba buat sekarang juga. Tidak lama. 30 menit selesai. Nikmati hasilnya.

Tanda-tanda Kamu Tidak Cocok Jadi Penulis

Tanda-tanda Kamu Tidak Cocok Jadi Penulis

Ada beberapa gejala seseorang yang dapat dilihat jika dirinya tidak cocok menjadi penulis. Sebenarnya, gejala ini hampir sama disetiap jenis pekerjaan. Jadi, saya buatkan saja untuk menyadarkan dirimu agar lebih memantapkan lagi niatmu untuk menjadi seorang penulis. Lantas apa saja yang merupakan tanda-tanda kamu tidak cocok jadi penulis?

Selalu Memikirkan Soal Uang

Banyak yang bahkan belum menulis sekalipun sudah memikirkan soal uang. Seperti, "kira-kira nanti dibayar penerbit berapa ya?" atau "kalau jadi penulis emang bisa buat biaya makan bulanan?" Penulis itu layaknya seniman. Artinya setiap karyanya memiliki arti. Tergantung dari tujuan yang kamu miliki sendiri, sebenarnya menjadi penulis tetap bisa menghidupimu. Hanya saja, tidak secepat yang kamu bayangkan seperti bekerja di kantor atau berbisnis. Jadi kalau dari awal sudah memikirkan soal uang dan terus begitu, maka menjadi penulis tidak cocok bagimu.

Buku Diterbitkan Sudah Pasti Terkenal

Tunggu dulu, jujur, saya beberapa membaca buku karya orang lain yang diterbitkan sudah mencapai belasan. Tapi baik sosok bahkan wajahnya sekalipun belum pernah muncul di televisi. Walaupun pekerjaan seni seperti layaknya seniman, penulis bukanlah artis. Hanya beberapa penulis terkenal seperti Raditya Dika dan Dewi Lestari saja yang sering muncul di televisi. Sisanya? Tentu tidak. Menjadi terkenal dikalangan pembaca pasti tapi belum tentu dikenal semua orang. Jika kamu beranggapan menerbitkan satu dua buku sudah bisa muncul di televisi, berarti kamu tidak cocok menjadi penulis.

Best Seller Itu Butuh Bertahun-tahun

Dewi Lestari dengan novel serialnya Supernova saja membutuhkan setidaknya 15 tahun dikerjakan dan menjadi best seller. Ada seorang penulis yang juga belasan tahun menulis dan belasan buku diterbitkannya belum juga best seller atau terkenal. Wajar karena sekali lagi, penulis bukan entertaimen. Belum lagi persaingan penulis pendatang baru terus bermunculan. Hanya saja, perbedaan terletak pada konsistensi dan penggemar. Tentu penulis dengan menerbitkan buku satu dua saja tidaklah memiliki penggemar sebanyak yang telah menerbitkan belasan buku. Terburu-buru ingin best seller berarti profesi sebagai penulis tidaklah cocok bagimu.

Dari tiga tanda diatas kamu harusnya paham, penulis adalah pekerjaan yang tidak sebentar. Menghabiskan waktu bertahun-tahun adalah hal biasa. Bersabar menjadi senjata utama. Banyak penulis yang akhirnya juga mengambil pekerjaan lain di dunia nyata untuk menutupi kekurangan pendapatan yang dihasilkan dari menerbitkan buku. Masih ingin jadi penulis? Siapkan lagi mentalmu ya, kuatkan lagi niat dan tekadmu!
Saturday, April 9, 2016

Menulis Juga Bisa dari Kegelisahan Pikiranmu

Menulis dari kegelisahan

Kamu pasti pernah merasa gelisah. Hati dan pikiranmu. Tentu gelisah itu tidak nyaman, tidak enak, bahkan beberapa orang tidak bisa tidur nyenyak. Dari kegelisahan itu akan muncul banyak pertanyaan. Kita akan ambil contoh dari kegelisahan yang pernah saya alami mengenai kategori buku di rak buku toko buku. Di rak parenting saya cukup gelisah karena banyak sekali cara mendidik anak untuk mereka para kaum Ibu. Lantas apakah para Ayah tidak ada buku panduannya nih? Tidak adakah yang menulis cara mendidik anak untuk mereka para kaum Ayah? Dari situlah buku non-fiksi saya terbit.

Raditya dika juga menulis dari kegelisahan. Satu hal yang pernah saya tahu di salah satu novelnya dirinya cukup gelisah jika cinta yang dirasakannya kadaluarsa. Lalu muncul pertanyaan, bisakah cinta itu kadaluarsa? Lantas apa yang terjadi selanjutnya? Apa sikap dan respon saat cinta kadaluarsa itu datang? Dari kegelisahan, rasa cemas, khawatir, muncul lah banyak pertanyaan yang mengantarkan kita untuk menciptakan suatu tulisan.

Kegelisahanmu mungkin sama dengan orang lain, dengan teman dan sahabatmu. Tapi tetap memiliki perbedaan bahwa apa yang kamu rasakan dan apa yang ingin kamu ungkapkan. Cobalah cari kegelisahan dalam diri dan pikiranmu. Apa saja. Kegelisahan menurut Raditya dika sendiri bisa dikategorikan dari usia. Usia remaja biasanya gelisah perihal cinta remaja, pertemanan, dan pelajaran atau prestasi. Usia remaja-dewasa masih sama, hanya saja mungkin gelisah perihal kuliah, dosen, organisasi, dan teman-teman kampusnya. Usia dewasa biasanya gelisah mengenai pekerjaan, melanjutkan kuliah lagi atau tidak, dan pernikahan. Usia dewasa-tua biasanya gelisah mengenai perkembangan anak, rumah tangga, tetangga, masa depan pekerjaan.

Kegelisahan juga bisa muncul dari apa yang kamu lihat sehari-hari di sekitarmu. Terutama apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan perasaanmu. Tentang orang-orang bertindak jahat, melakukan tindak kecurangan, ketidak adilan, dan lain sebagainya. Gelisahlah untuk mendapatkan ide tulisan jika kamu merasa buntu menentukan ide tulisanmu selanjutnya.

Menulis Jangan Cuma Mengandalkan Perasaan, Tapi Juga Harus Riset

pentingnya riset dalam menulis

Menulis tidak cukup melibatkan perasaan semata. Tapi juga butuh riset. Tidak sebatas buku non-fiksi saja yang butuh riset, tapi buku fiksi juga butuh riset. Kalau kamu mengikuti perkembangan Dewi Lestari dalam membuat novel-novelnya, kamu pasti paham bahwa dirinya juga melakukan riset agar memahami dengan sangat baik tokoh yang akan diciptakannya nanti.

Sebagai langkah awal, menulis dengan perasaan itu memang penting. Lagi jatuh cinta pengen nulis tentang cinta. Habis nonton film horor akhirnya kepikiran menulis tentang horor. Penting memang sebagai jangkar agar kamu paham dari awal hingga akhir topik yang sedang kamu tulis adalah tentang perasaanmu. Hanya saja, banyak penulis tidak menyelesaikan tulisannya lantaran perasaan yang terlibat dalam penulisan tidaklah semenarik saat ditulis. Terlalu biasa, terlalu mudah ditebak.

Riset bagi penulis layaknya kamu menambahkan ornamen dalam rumah kamu. Fondasi adalah perasaanmu, riset adalah cara mempercantik rumahmu. Bagi kamu yang malas riset, siap-siaplah tidak akan berkembang menjadi penulis yang baik. Karena kesan orang membaca tulisanmu menjadi nilai paling penting dibandingkan perasaan yang sudah kamu tulisankan itu.

Bagi penulis, riset juga tidak sekedar membaca buku. Bertanya pada orang lain tentang pengalaman cinta mereka bisa juga jadi jalan cerita baru bagi tulisanmu. Menonton drama korea atau serial televisi amerika yang bertopik cinta juga dapat membantumu menemukan konflik-konflik yang tidak mudah ditebak oleh orang lain. Menonton anime, kartun, atau film dari negara lain tentang cinta juga membantumu menemukan ide penyelesaian dari suatu masalah dalam cerita. Semua itu termasuk riset.

Dalam menulis fiksi, cerpen misalnya, saya perlu riset dengan membaca cerpen dari banyak orang. Entah tentang cinta, kasus kriminal, politik, keluarga, dsb. Belum selesai maka saya tambahkan dengan membaca komik dari jepang. Begitu terus hingga saya terbiasa membuat kejutan-kejutan dalam cerita yang saya buat. Tidak mudah ditebak tapi juga tidak lepas dari alur ceritanya. Bahkan tidak jarang saya mencuri beberapa kalimat dari novel-novel tertentu dan saya kembangkan sendiri.

Perasaan memang berperan baik, hanya saja, perkuat dengan riset agar tulisanmu tampak kaya dan padat. Orang tidak lagi berpikir, "Ah, cerita cinta biasa nih" tapi mereka berpikir, "Cerita cinta ini menarik, konfliknya lucu, endingnya tidak disangka-sangka". Karena bagi pembaca manapun, mereka tidak ingin menghabiskan waktu mereka membaca hal-hal yang akhirnya mengecewakan. Jadi risetlah dulu sebelum menulis. Maka kamu akan terkejut tulisanmu benar-benar berkembang ke arah yang lebih baik.
Friday, April 8, 2016

Cara Agar Bukumu Best Seller?

cara agar bukumu best seller

Lihat tumpukan buku pada gambar diatas. Mengerikan!? Sungguh, jumlah buku sebanyak itu, bagaimana caranya agar orang melihat bukumu? Jelas di toko buku, baik di Gramedia, Togamas, atau di toko buku mana pun, dengan jumlah buku yang dijual sebanyak itu, tidaklah mudah menemukan bukumu. Lantas pasti kamu pun penasaran dan tergelitik untuk bertanya, bagaimana cara agar buku kita best seller? Banyak dibeli orang. Jawabannya sulit. Sangat!? Tapi tentu ada metode dan tahapan yang bisa saya jabarkan disini. Mari kita ulas bersama.

Pekerjaanmu Belum Selesai Walau Bukumu Sudah Terbit!

Ini benar. Sekali lagi, benar! Lain dulu lain sekarang. Dulu, zaman belum ada internet dan teknologi smartphone, menjadi penulis ketat sekali persaingannya. Masuk di penerbitan sulit sekali. Tapi sekarang tidak. Penerbit sudah banyak, yang mau nerbitin bukumu juga pasti ada. Jika ternyata penerbit meloloskan naskahmu, berarti kamu yang terpilih dari ribuan judul dan naskah yang masuk ke penerbit. Namun setelah terbit tugasmu belum selesai.

Di era internet sekarang ini, penulis juga harus terlibat dalam promosi buku. HARUS! Jika tidak, orang-orang tidak akan pernah tahu tentang bukumu. Lalu bagaimana caranya? Buat blog. Penting karena orang lain butuh tahu siapa kamu melalui blog yang kamu buat. Gunakan sosial mediamu! Yups, penting juga mengajak teman-temanmu di sosial media untuk tahu kalau kamu sekarang adalah penulis. Entah mereka beli atau tidak, yang terpenting kamu memberikan pengumuman dulu bahwa bukumu telah terpajang di etalase toko buku.

Konsisten, Jangan Menyerah Promosi!

Namanya juga promosi, jika buku butuh terbit setidaknya enam bulan (4 bulan baru direspon penerbit, 2 bulan naik cetak dan masuk toko buku) maka kamu punya waktu 6 bulan lagi untuk terus promosi. Lakukan secara online terus menerus. Masuk ke forum penulis, di kaskus, atau di media forum online manapun. Lakukan blogwalking, istilah untuk mengunjungi blog orang lain dan berkomentar tentang artikel mereka. Nantinya bakal banyak orang yang penasaran buku yang kamu tulis tentang apa.

Keluarkan uang untuk promosi juga penting. Sudah banyak jasa promosi secara online. Baik di twitter, facebook dan instagram. Promosi gratis sudah kamu maksimalkan menggunakan sosial mediamu sendiri maka saatnya promosi dengan uang. Banyak penulis pemula menghindari cara ini dikarenakan hanya buang-buang uang. Padahal investasi promosi ini penting. Soalnya, kamu belum punya nama, dan orang belum kenal. Strategi sosial media cukup ampuh.

Jangan Kecewa Penjualan 6 Bulan Pertama

Dulu saya kecewa. Sangat! Buku pertama laku tapi tidak begitu sukses. Begitu pun buku ke dua dan ketiga. Lah? Intinya, saat kamu mendapati laporan penjualan dari penerbit selama enam bulan, maka, kamu bisa intropeksi diri lagi. Singkatnya, jika penjualan bukumu selama 6 bulan mencapai 3000 buku, maka kamu mendekati best seller! Sayangnya saya mencapai angka itu dalam waktu satu tahun. Kan penduduk Indonesia banyak kok penjualannya rendah? Apalagi sudah masuk Gramedia juga? Wajar, minat baca di negeri kita tercinta masih rendah. Orang mengeluarkan uang untuk beli buku masih berpikir panjang.

Raditya dika saja 10.000 buku dalam waktu seminggu. Artinya kamu perlu lebih mawas diri, sadar diri, jangan terlalu cepat untuk berharap best seller. Tapi juga jangan mudah menyerah. Teruslah menulis buku dan berkaryalah. Karena buku pertamamu dengan buku kelimamu jelas kualitasnya meningkat. Bisa jadi di buku keenam orang jadi banyak tahu tentang dirimu dan membeli bukumu. Akhirnya best seller deh. Lama ya? Jelas, menjadi penulis bukan pekerjaan mudah. Ada seleksi alamnya. Kalau kamu mampu bertahan, nantinya karyamu pasti diminati banyak orang.

Jadi kesimpulannya, PROMOSI! Pihak penerbit pasti promosi, tapi kamu juga jangan ketinggalan. Dekatkan diri pada para pembaca, kalau mau promosi offline seperti bedah buku dan sharing menulis juga bisa tapi untuk buku karya pertama biasanya sulit melakukan itu. Tapi kalau bisa kenapa tidak? Silahkan mencoba.

Kenapa Menulis Itu Sulit?

kenapa menulis itu sulit

Setiap orang yang pernah membaca buku novel, cerpen, kumpulan puisi, pastilah ingin menuliskan karyanya sendiri dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Tidak hanya itu, menulis di koran, menulis di majalah, menulis paper studi kuliah, apapun itu, kita pasti ingin menulis sesuatu. Permasalahannya yang paling mendasar adalah buntunya ide. Pertanyaannya menjadi, kenapa menulis itu sulit?

Jarang Membaca Buku

Yups. Jarang membaca adalah faktor utama bagimu sulit menulis sesuatu. Tapi kok banyak mereka yang nulis di status Facebook tentang politik asal begitu, toh buktinya mereka bisa menulis. Tentu, tapi sumber referensi yang tidak kuat menyebabkan tulisan mereka cenderung emosional dan mudah dibantah. Sama halnya jika kamu menulis sebuah fiksi seperti cerpen atau novel. Kurangnya referensi berupa buku sastra fiksi yang pernah kamu baca mengakibatkan perbendaharaan katamu kurang. Jadinya tulisan yang kamu ciptakan hambar. Mudah ditebak alur ceritanya. Bahkan tokoh yang kamu ciptakan tidaklah kuat karakternya.

Tidak Berani Memperbaiki

Faktor kedua adalah tidak berani memperbaiki. Sudah banyak mereka yang menulis status di Facebook mengkritik sesuatu tapi tidak berani memperbaiki tulisan yang sudah mereka posting. Mudahnya, tulisan panjang lebar telah dibuat tapi setelah mendapatkan bantahan, tidak belajar dari kesalahan. Merasa diri benar, dan tentu saja membuat diri tidak dapat berkembang. Asal bisa menulis saja tidaklah cukup bagimu yang ingin menciptakan sebuah buku. Karena ada beban moral yang harus kamu tanggung setelah buku itu terbit. Menulis di status Facebook mengkritik sesuatu pastilah ada pertanggung jawaban sesudahnya. Sehingga di kotak komentar menulis fakta-fakta yang didapatkan untuk mendukung status yang dibuat sebelumnya. Jika tidak, ya itu tadi, kualitas tulisanmu tidak akan kemana-mana.

Takut Gagal

Ada kalanya gagal itu sudah berada di pikiran kita padahal menulis saja belum. Tergelitik dengan berita hangat di televisi dan ingin menuliskan opini di status sosial media, sudah panjang lebar, akhirnya tidak jadi di posting. Takut gagal, takut kena kritik balik, takut akhirnya tidak tenang. Menulis merupakan karya cipta pikiran kita terhadap suatu hal yang dituliskan di media apapun. Baik offline maupun online. Tidak ada karya cipta itu yang tidak di kritik. Pasti semua di kritik. Hanya saja bagaimana kita menanggapinya. Tidak ada karya cipta itu yang tidak ditolak penerbit. Pasti ada dan bagaimana kita menanggapinya juga.

Jadi, sudah terjawab sebab kamu sulit menulis kan? Perbanyak bacaanmu (buku ya, tidak sekedar membaca di internet), Berani memperbaiki tulisan-tulisanmu (apapun itu, untuk kepentingan apapun, cek lagi, perbaiki lagi), dan Berani gagal (di kritik, di tolak karyamu, apapun itu, coba lagi). Semoga tiga hal sederhana ini membantumu untuk lebih bersemangat dalam menulis dan bersiaplah untuk tips dan trik menulis lainnya dari saya.